Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Alasan Urung Ketupat Jadi Primadona Lebaran

Minggu, 30 Maret 2025 | Maret 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-30T06:50:39Z
 “Kami sudah biasa berjualan di sini, lapak ini sudah turun-temurun. Setiap tahun, H-3 sudah pasti di sini,”seorang pedagang urung ketupat asal Garawangi,  Didin


Kuningan, Jawa Barat- INGATKEMBALIcomsetiap sudut trotoar Jalan Siliwangi, Kuningan, terlihat pemandangan yang tak asing setiap menjelang Hari Raya Idulfitri. Pedagang urung ketupat dadakan mulai memenuhi jalanan sejak H-3 Lebaran.


Sebagian besar dari mereka telah melakoni aktivitas ini selama bertahun-tahun. Hal ini menjadikannya bagian dari tradisi yang tak terpisahkan dengan perayaan Lebaran di Kuningan.


Didin, seorang pedagang urung ketupat asal Garawangi, bercerita tentang rutinitas berjualan yang sudah turun-temurun dilakukan keluarganya. “Kami sudah biasa berjualan di sini, lapak ini sudah turun-temurun. Setiap tahun, H-3 sudah pasti di sini,” ujar Didin saat ditemui di lapaknya, Minggu, 30 Maret 2025


Urung ketupat yang dijualnya menjadi barang yang banyak dicari masyarakat, terutama saat momen Lebaran tiba. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, antara Rp10-15 ribu  per ikat, tergantung pada ukuran yang dipilih pembeli. 


Satu ikat sendiri berisi sepuluh biji urung ketupat. Bagi Didin, penjualan urung ketupat semakin meningkat menjelang Lebaran.


“Penjualan semakin ramai, kemarin saya bisa menjual 1.000 urung ketupat hanya dalam waktu setengah hari. Bahkan, pada hari ini, hingga pukul 08.30 pagi, sudah terjual 1.500 biji,” kata Didin.


Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, ia pun terampil membuat anyaman daun kelapa di tempat. Di tengah kesibukan berjualan, Didin terlihat tenang dan cekatan. 


Ia tidak hanya menjual, tetapi juga sibuk merangkai urung ketupat dengan daun kelapa yang segar, memastikan barang dagangannya siap untuk pelanggan. “Membuatnya langsung di sini, sambil berjualan, memang sudah terbiasa, jadi bisa sambil bekerja,” ujarnya..


Pembeli yang datang juga sangat beragam. Tidak sedikit yang datang dengan tujuan memborong urung ketupat dalam jumlah banyak. 


Seperti yang dilakukan Tini, seorang pembeli asal Desa Cileley. Ia membeli seratus ikat urung ketupat dalam satu kali belanja. 


"Sengaja beli banyak supaya dapat diskon. Kalau untuk saya hanya beberapa, sisanya banyak yang nitip," kata Tini sambil tersenyum.


Aktivitas seperti ini tak hanya menjadi bagian dari rutinitas pedagang, tetapi juga mencerminkan betapa pentingnya urung ketupat dalam perayaan Lebaran. Bagi banyak orang, urung ketupat bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan dan tradisi yang diwariskan.(Na/By/Sa/Ar/Na


Copyright © INGATKEMBALIcom 2025