Jakarta - INGATKEMBALIcom: Dewan Pembina Asosiasi Petani Kelapa (ASPEK) Indonesia, Abdul Gafur Ritonga, mengungkapkan lonjakan harga kelapa bulat akibat kelangkaan kelapa akibat alih fungsi lahan. Abdul Gafur menjelaskan bahwa sebagian besar lahan kelapa kini beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.
"Petani kelapa saat ini sulit memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri karena lahan banyak beralih fungsi," jelas Abdul Gafur dikutip perbincangan bersama RRI PRO3 RRI, Jumat, 21Maret 2025
Abdul Gafur menekankan bahwa alih fungsi lahan kelapa menjadi perkebunan sawit berdampak besar terhadap produksi kelapa nasional. Menurutnya, kelangkaan kelapa juga disebabkan oleh peningkatan permintaan ekspor yang mengurangi pasokan dalam negeri.
"Permintaan ekspor kelapa tinggi, tetapi produksi dalam negeri menurun akibat kerusakan tanaman dan serangan hama," jelasnya.
Abdul Gafur juga menyatakan bahwa pemerintah seharusnya mengendalikan mekanisme harga dan pengawasan distribusi kelapa dalam negeri. Dia berpendapat bahwa pemerintah bersama kementerian terkait juga harus bertanggung jawab karena lemahnya pengawasan perdagangan kelapa nasional.
"Pemerintah harus hadir mengontrol distribusi kelapa agar petani tidak dirugikan dan harga tetap stabil," jelas Abdul Gafur.
Abdul Gafur juga menilai bahwa sebagian besar produksi kelapa diekspor dalam bentuk bahan mentah tanpa pengolahan industri. Menurutnya, ketiadaan hilirisasi menyebabkan petani kehilangan potensi keuntungan dari industri pengolahan kelapa yang seharusnya ada.
Ia menyoroti pentingnya regulasi harga kelapa agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh tengkulak atau cukong besar. Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu segera membuat kebijakan harga kelapa agar petani dapat menjual hasil panennya secara adil dan berkelanjutan.(Na/By/Sa/Ar/Na)
Copyright © INGATKEMBALIcom 2025