Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ekonom INDEF Sarankan Indonesia Negosiasi dengan AS

Kamis, 03 April 2025 | April 03, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-04-03T14:44:00Z
"Negosiasi perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak tarif bagi produk ekspor Indonesia ke AS. Kekuatan negosiasi diplomatik menjadi sangat krusial, dalam memitigasi dampak dari perang dagang dengan AS,"Ekonom INDEF Eisha Maghfiruha Rachbini


Jakarta - INGATKEMBALIcom: Penerapan tarif pada produk-produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) dinilai akan berdampak pada penurunan ekspor Indonesia ke AS secara signifikan. Karenanya, pemerintah disarankan segera mengambil langkah untuk melakukan negosiasi dengan AS.


"Negosiasi perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak tarif bagi produk ekspor Indonesia ke AS. Kekuatan negosiasi diplomatik menjadi sangat krusial, dalam memitigasi dampak dari perang dagang dengan AS," kata Ekonom INDEF Eisha Maghfiruha Rachbini dalam analisisnya, Kamis, 03 Maret 2025 


Menurut Eisha, pangsa pasar ekspor Indonesia ke negara tujuan AS secara rata-rata tahunan sebesar 10,3 persen. Jumlahnya merupakan yang terbesar kedua setelah ekspor Indonesia ke Tiongkok.


Ekspor komoditas yang akan menurun setelah penerapan tarif impor baru oleh AS antara lain ekspor tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur. Termasuk ekspor produk pertanian dan perkebunan, seperti minyak kelapa sawit, karet, perikanan.


Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan kebijakan tarif barunya yang dikenakan untuk semua negara. Indonesia termasuk negara yang terkena tarif impor cukup tinggi sebesar 32 persen.


"Dengan adanya penerapan tarif, maka akan terjadi trade diversion dari pasar yang berbiaya rendah ke pasar yang berbiaya tinggi. Biaya tinggi akan dirasakan pelaku ekspor untuk komoditas unggulan dan akan berdampak pada melambatnya produksi dan lapangan pekerjaan," ucap Eisha.


Selain negosiasi dengan AS, tambah Eisha, pemerintah perlu mengoptimalkan perjanjian dagang secara bilateral, multilateral dan CEPA. Inisiasi perjanjian kerjasama dengan negara non-tradisional juga perlu didorong untuk menjaga ekspor produk terdampak.


"Dengan cara itu, pelaku ekspor dan industri terdampak dapat mengalihkan pasar ekspor. Pelaku usaha juga perlu diberikan Insentif keuangan, subsidi, dan keringanan pajak untuk mengatasi peningkatan biaya dan pengurangan permintaan," kata Eisha.


Selain itu, investasi di sektor teknologi dan inovasi, peningkatan keterampilan tenaga kerja  juga diperlukan. "Supaya daya saing produk Indonesia meningkat di pasar global," ucap Eisha menutup analisisnya.(Na/By/Sa/Ar/Na


Copyright © INGATKEMBALIcom 2025